Pengertian Dan Sejarah Kawitan Serta Kenapa Kawitan Hanya Terlihat Jelas Di Bali?

Om Swastiastu,

Bagi teman-teman dibali tidak asing lagi dengan kata, Kawitan, Sanggah Kemulan, Merajan/Mrajan. Semua itu memang ada kaitannya dengan topin yang akan saya bahas disini yaitu tentang kawitan, apa itu kawitan, bagaimana asal-usul dan sejarah kawitan.



Pengertian Secara Harfiah


Secara harfiah dan hasil dari paruman Sulinggih di Bali bahwa Kawitan, berasal dari bahasa
sansekerta "Wit" artinya "asal­usul / Asal mula" utawi preti sentanan sira. Asal mula manusia adalah Tuhan, maka sesungguhnya
setiap orang punya kawitan. Di  luar Bali kawitan itu ada tetapi tidak secara visual dalam bentuk merajan.

Sejarah Kawitan : Sudah Ada Sebelum Era Majapahit


Konsep merajan kawitan ada mulai abad ke 11 yang ditepkan oleh Ida Mpu Kuturan di Bali sebagai benteng, karena bercermin dari  pengalaman sejarah runtuhnya kerajaan Hindu di Jawa.

Di jawa kawitan tidak sedetail di bali, yang ada adalah dalam bentuk candi pemujaan kerajaan leluhur dan sebagainya yang lebih bersifat umum, yang ikatanya tidak sekuat konsep kawitan di Bali.

mungkin sudah ada dalam pikiran kita semua, bahwa yang disebut Ida Bhatara Kawitan adalah beliau yang datang/sudah ada di Jagat Bali dan sudah menurunkan sentana (keturunan), sebelum ataupun setelah Jagat Bali dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit.

Kawitan yang sudah ada sebelum kerajaan Majapahit datang ke Bali diantaranya Ida Rsi Bujangga Waisnawa, Pasek Sanak, Sapta Rsi, Pasek Kayu Selem, Kebayan dan lainnya. Kawitan yang ada setelah Kerajaan Majapahit menguasai Bali diantaranya : Kawitan Dalem beserta Para Arya.

Intinya, "yang dinamakan Kawitan adalah orang/manusia yang mengembangkan keturunan di
pulau Bali", sehingga leluhur di Bumi Jawi tidak disebut kawitan, diantaranya: Mpu Tantular, Ken Arok, Tunggul Ametung, Jayasabha, Jayabhaya, dan lain sebagainya, walaupun banyak memiliki keturunan di Bali.

Dibali Banyak Kawitan


Mengenai adanya banyak kawitan, ini bersumber dari kondisi sosial dan kedudukan leluhur kita di masyarakat pada jaman dahulu. Jika misalnya leluhur kita dahulu pernah menjadi raja, maka keturunannya akan memakai nama kawitan tersebut.

Begitu pula jika seandainya leluhur kita dulu menjadi wiku, maka keturunannya akan memakai mana kawitan tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya kita punya kawitan para leluhur yang luar biasa, yang sakti, bijaksana, dharma dan berwibawa.

Dengan mengingat kawitan maka seolah kita ditantang, apakah dengan sikap dan perilaku kita seperti sekarang ini kita layak menyandang nama kawitan sebagai keturunan beliau? Kawitan adalah pengingat wit atau asal.

Pemujaan kawitan


Pemujaan Kawitan didasari oleh Atma Tattwa dan Purnabhawa. Bahwa roh leluhur akan menjelma kembali menjadi manusia, bisa jadi anak-cucu kita, dalam kaitan ini pemujaan Kawitan adalah bagian dari Bhakti Marga, mewujudkan kasih sayang kepada leluhur dan keturunan kita. Biasanya pemujuaan kawitan dilakukan di Pura/Sanggah Kawitan.

Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh suci leluhur oleh umat Hindu yang memiliki ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis keturunannya. Jadi Pura Kawitan bersifat spesifik atau khusus sebagai tempat pemujaan umat Hindu yang mempunyai ikatan darah sesuai dengan garis keturunannya.

Pemujaan Kawitan juga dapat didasari oleh Moksa, karena dalam upaya mensucikan roh leluhur, salah satu caranya dengan menyembah roh leluhur, mendoakan tercapainya Amoring Acintya.

Seperti kita ketahui kalau di Bali adalah menganut sistem keturunan Patrilineal atau berdasarkan keturunan dari keturunan lelaki atau Purusa, jadi oleh sebab itu kita patut tahu sebelum kita membahas tentang Kawitan ini yang mungkin bisa menjadi dasar untuk mengetahui asal muasal dari Kawitan yang ada di Bali saat ini.


Om Santih, Santih, Santih Om

Referensi : Ida Pendanda Ratu Made Gunung, Ortibali, forum diskusi agama hindu

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Japa Mantra Om Namah Siwaya (Siwa) dan Urutan Pengucapannya

Mitos dan Asal Usul Ulat Lulut

Nabi Disetiap Agama, Bagaimana Dengan Nabi Di Hindu?