Menguak Sejarah Perang Mahabharata Dalam Kisah Yang Sebenarnya

Om Swastiastu,

Perang Mahabharata adalah perang besar-besaran yang terjadi antara dua bagian keluarga dari Dinasti Chandra yang berkuasa di seluruh daratan India dan sekitarnya pada masa peradaban Vedic dimana itu berarti 1000 sampai 1500 tahun sebelum masehi (ada pihak yang menyebutkan 3000-2500 SM…)

Apakah Dinasti Candra itu ?


Adalah dinasti yang didirikan oleh pangeran Pururava Aila dari negeri Bahlika dekat sungai Kardameya (kebanyakan para ahli sepakat bahwa negeri itu berada di daerah Persia (lihat peta Bahlika/Bahlkh)
Cek disini untuk detailnya

Pangeran Pururava dan rombongannya memasuki Hindustan melalui daerah Uttar Kuru, Uttar berarti utara, jika dilihat dari peta maka jika kita menarik garis perjalanan Pangeran Pururava dari Bahlika (negerinya) ke Kuru (negeri nya kelak) maka kita dapat melihat bahwa mereka melalui jalur utara India bukan ? (kelak salah satu keturunannya yang terkenal dinamakan Kuru)

Bagaimana Sejarah Dinasti Candra ?


Dinasti Candra atau Wangsa Candra ( Lunar Dinasty ) didirikan Pangeran Pururava Aila , dia adalah putra dari raja kerajaan Puru di Bahlika yang bernama Trasadasyu (kelak negeri Puru memihak Kaurava saat perang Bharathayuda), (Arthashastra, p 76, n.5)

Dia dikisahkan beribu dewi sungai Kardama sehingga bernama Kardameya ( ingat kisah Bhisma yang beribu dewi Gangga sehingga dipanggil Ganggeya ?)walaupun kita tidak bisa memvonis benar atau salah bahwa ibu sang pangeran adalah seorang dewi (mahluk ilahi ), tapi yang jelas sungai Kardama itu memang mengalir didekat daerah Bahlika di daerah Persia.

Setelah berusia dewasa, sang pangeran memutuskan untuk hijrah dan mencari tempat baru untuk mendirikan kerajaan baru baginya ( cukup jelas bahwa Pururava bukanlah anak sulung atau putra mahkota )

Selanjutnya Pururava Aila-(sebenarnya kata Pururava mengacu pada “keturunan Puru” sebagaimana kata Kaurava “keturunan Kuru” atau Pandava “keturunan Pandu”)- dan rombongannya melewati wilayah Uttar Kuru yang bersalju (sekitar Himalaya ) dan tiba di daerah antara sungai Gangga dan Yamuna.

Selanjutnya tidak ada suatu hal yang terlalu banyak diceritakan tentang Pururava Aila serta putra pertamanya Ayu, namun anak dari Ayu yaitu Yayati merupakan tokoh yang sedikit berpengaruh karena cucunya kelak, “Yadawa “ menurunkan wangsa Vrsni (Krishna, Balarama, Kunti ) dan “Bharata” yang menurunkan wangsa Kuru (Pandawa dan Kaurawa) dua wangsa besar dalam perang Mahabharata.

Anak Yayati yaitu Nahusa telah dikutuk menjadi ular besar karena kesombongannya, selanjutnya anak Nahusa yaitu Bharata diangkat sebagai putra mahkota singasana Paurawa ( dari kata Pururava ). Saudaranya yaitu Yadawa pergi ke daerah barat dan bertempat tinggal di sekitar Dwaraka (lihat peta). Bharata kemudian berkat kesaktiannya yang tiada tanding melakukan Rajasuya ( pengukuhan diri sebagai Raja Diraja /Kaisar ) dengan menaklukan seluruh India, sehingga negeri Industan berganti nama menjadi Bharatavarsa ( negerinya Bharata ).

Tahun demi tahun berlalu, abad berganti abad, ketika kekuasaan keturunan Bharata melemah, lahirlah seorang putra dari Samavarana yang bernama Kuru (Samavarana juga melahirkan leluhur keluarga Panchala, keluarga Drupadi istri kelima Pandawa ).

Kuru dikisahkan begitu sakti, dia bertapasya di daerah Kuruksetra (istilah ksetra mengacu pada kata lapangan (bukan kuburan), jadi kuruksetra adalah tanah (lapang) tempat Kuru bertapasya dan dia berhasil menyenangkan Indra sehingga mendapatkan berkahnya.

Dikisahkan berkat berkah sang Dewa, Kuru sekali lagi menaklukan seluruh India dibawah Wangsa Candra. Kuru kemudian dikenal sebagai salah satu raja termasyur didalam keluarga Dinasti Candra. (ironisnya lapangan tempat dia melakukan tapa untuk membangun Kekaisaranya, beberapa abad kelak, justru menjadi tempat pembantaian jutaan prajurit dalam perang yang menghancurkan istana Kuru )

Setelah Kuru, tidak ada lagi raja yang termasyur dalam sejarah wangsa Candra, hanya ada Santanu, walaupun dikenal hanya lewat kisah asmaranya yang menyedihkan dengan Dewi Gangga, dan Setyawati. Namun begitu, anak Santanu dari Dewi Gangga yaitu Dewavrata adalah yang terhebat dari semuanya…Dewavrata sendiri dilatih oleh Bhargava yang Agung, dan dengan kesaktiannya menaklukan India kembali atas nama wangsa Candra. Karena kehebatannya dia digelari julukan Bhisma atau “Dia Yang Menakutkan

Dewavrata sendiri kemudian dibunuh oleh Anak Pandu dalam perang Kuruksetra yang bernama Arjuna.(yang sebenarnya bukanlah cucunya tetapi cucu Maharsi Abyasa )

Diagram Keturunan Raja-Raja Wangsa Candra 


Puru-ravas Aila, Ayu, Yayati, Nahushya, Puru-Bharata (bersaudara dengan Yadawa leluhur Krishna), Dauhshanti, Saudyumni, Ajamidha, Riksha, Samavarana, Kuru, Uchchaihsravas, Kaupayeya, Prati sutvana, Bahlika Pratipeya, Santnu, Dhritarashtra, Yudhistira,Parikesit cucu dari Arjuna., Janamejaya, tidak disebutkan lagi.

Perang 18 Akshauhini


Perang bharatayudha merupakan perang saudara dalam sebuah kekaisaran yang terjadi justru pada zaman keemasan kekaisaran tersebut. Maka tidaklah heran jika segenap pasukan yang berlaga di medan tempur berjumlah sangat menakjubkan. Yaitu 18 akshauhini.

Dengan rincian Pandawa membawahi 7 Akshauhini tempur, sedangkan Kerajaan Kuru membawahi 11 Akshauhini tempur. Menurut sumber-sumber terjemahan Mahabharata asli, jumlah mereka yang bertempur adalah : Pandawa memiliki 1,530,900 prajurit dan Kaurawa membawa 2,405,700 prajurit. Jika digabungkan, terdapat 3,94 juta orang yang bertempur di medan perang Kuruksetra.

Apa Yang dimaksud Akshauhini ?


Akshauhini adalah satuan jumlah prajurit dalam kemiliteran India Kuno, 1 Akshauhini bernilai : 21,870 kereta perang (Sanskrit ratha); 21,870 gajah perang; 65,610 cavalery dan 109,350 infantry, jumlahnya tidak harus tepat, tetapi mendekati itu. Disebutkan bahwa 1 Akshauhini adalah standar jumlah yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah Vyuha.

Apa itu Vyuha ?


Vyuha berarti formasi tempur, ada bermacam macam vyuha yang dikenal pada zaman itu, antara lain Krauncha vyuha (burung formation), Makara vyuha (buaya formation), Kurma vyuha (kura-kura formation), Trishula vyuha (trisula formation), Chakra vyuha (bentuk cakra formation) and the Padma vyuha (teratai formation).

Apa yang dimaksud Samsaptaka ?


Samsaptaka adalah sebutan bagi pasukan elite khusus yang dipimpin oleh Raja Susarma, terdiri dari 2000 ksatria tangguh serta 50 pangeran dari negeri Trigarta. Trigarta merupakan sekutu lama Kekaisaran Kuru ( lihat Peta ). Pasukan Samsaptaka bergabung kedalam 2,4 juta pasukan yang mengabdi pada Duryodana dalam perang Bharatayudha.

Pasukan Samsaptaka dibentuk secara khusus untuk membunuh Pandawa yang paling perkasa, Arjuna. Selama peperangan, ke dua ribu anggota Samsaptaka memang hanya menyerang Arjuna seorang. Mereka menyerang secara keroyokan, dan menganut motto “membunuh atau dibunuh Arjuna”. Setelah perang usai, tidak seorangpun dari para Samsaptaka yang lolos dari panah Arjuna.

Siapa Bhagadatta itu ?


Bhagadatta adalah raja dari monarki Pragjyotisha (lihat Peta ) letaknya kira kira disekitar Bangladesh sekarang. Menurut sumber-sumber terpercaya, kekuasaan kerajaan Pragjyotisha bahkan sampai ke asia tenggara, antara lain Thailand sekarang. Dan wilayah ini memang penghasil gajah gajah yang besar dan sehat. Bhagadatta memimpin garnisun dari puluhan ribu gajah yang mengerikan. Gajah perang sang raja bernama Surpreetika. Bhagadatta dan kerajaan Pragjyotisha-nya diklaim sebagai petarung terbaik dalam hal seni berperang menggunakan gajah perang, mereka bukanlah negeri taklukan Kekaisaran Kuru, namun dianggap sekutu yang kuat. Bhagadatta sendiri dibunuh oleh Arjuna dalam duel satu lawan satu di hari ke 13 perang.

Siapa Sebenarnya Gatotkacha ?


Gatotkacha dikisahkan sebagai anak Bhima dengan Hidimbi. Secara khusus Maharsi Vyasa sang penulis Mahabharata tidak merinci tempat kelahiran Gatotkacha. Hanya saja tercantum bahwa setelah dewasa dia menikah dengan wanita bernama Ahilawati dan mempunyai putra bernama Barbarika. Gatotkacha dianggap sebagai bangsa Raksasa, hal ini secara logika berari tempat kelahiran Gatotkacha berada diluar India.


Karena bangsa Arya selalu menggolongkan bangsa diluar (apalagi yang lebih rendah peradabannya atau norma kesusilaannya, seperti kanibalisme,) sebagai bangsa Raksasa Jika menilik pertemuan antara Bhima dengan Hidimbi terjadi saat Pandawa pergi mengasingkan diri dari Bharatavarsa (Kekaisaran Kuru) kearah timur, dan melewati negeri gajah Pragjyotisha (lihat peta letak Pragjyotisha), ada kemungkinan mereka sampai di Indonesia.

Nama Pringgadani sendiri (sebagai ibu kota kerajaan para bangsa “Raksasa” milik Gatotkacha ) tidak ditemukan dalam literatur peta sejarah India kuno. Pada kelanjutannya Pringgadani sendiri bukanlah sebuah kota, kemungkinan hutan (ingat Bhima bertemu dengan Hidimbi di Hutan, ini berarti peradaban bangsa “raksasa” ,-bahkan sampai masa kelahiran Gatotkacha pun,-sepertinya belum bisa membuat sebuah kota yang maju seperti bangsa arya di Industan, kemungkinan besar mereka masih tinggal di permukiman-permukiman didekat hutan ). Uniknya kata Pringgadani sendiri terdiri dari dua kata yaitu Pringga dan Dani, Pringga sendiri berarti hutan/ bukit, dalam bahasa jawa kuno.

Perang Kuruksetra



Dalam Perang Kuruksetra, Batalion pasukan Kaurava 2,4 juta pasukan dibandingkan 1,5 juta pasukan Pandava, tetapi kenapa Kaurava bisa kalah ?

Ada kajian penting yang harus dikemukakan disini, Perang bharatayudha memang benar-benar terjadi di masa lampau, walaupun waktu kejadiannya belum dapat dipastikan.

Banyak dari Pasukan Kaurava terdiri dari pasukan bayaran dan bukan pasukan yang mengabdi secara moral kepada Duryodana pemimpin para Kaurava.

Jika dilihat dari text asli Mahabharata maka kita dapat melihat bahwa pasukan yang bergabung dengan pasukan kaurava sebanyak 2,4 juta orang, namun yang benar-benar mengabdi tidak sebanyak itu, ulasannya sebagai berikut :

Pasukan Inti kaurava :
  • Pasukan Istana Kuru, terdiri dari 2 Akshauhini (200.000 infantri, 140.000 cavalery, 35.000 kereta perang, 40.000 gajah perang. Dipimpin oleh Bhisma, Drona, Kripa, Karna, Ashvatama, Duryodana, Bahlika, Sakuni dan sanak keluarganya Istana Kuru. Ini merupakan inti pasukan Kaurava yang siap mati membela Duryodana.
  • Pasukan Trigarta, 2000 pasukan elite Samsaptaka, 50 noble warrior, 50.000 sampai 70.000 infanri, 30.000 cavaleri.
  • Pasukan Anga. Provinsi terbesar Kekaisaran Kuru di timur. Dipimpin oleh Karna. Anga menyuplai 1 Akhsauhini pasukan untuk Duryodana. Sayangnya mereka baru bisa bergabung setelah jatuhnya Panglima tertinggi Kaurava, Bhisma dihari ke 10.
  • Pasukan Persia dari Bahlika (negeri Puru). Seperti yang terurai diatas, negeri Bahlika merupakan tanah leluhur Pangeran Pururava Aila leluhur Wangsa Candra. Bahlika memutuskan untuk membela Istana Kuru walaupun itu berarti mereka harus membela Duryodana. Pasukan Persia ini dikisahkan lebih banyak memiliki heavy cavaleri tangguh (kelak memang kekaisaran persia akan terkenal dengan pasukan berkuda Kathaprak-nya). Jumlah pasukan yang disumbangkan 1 Akhsauhini. 150.000 prajurit. 50.000 cavaleri tempur (heavy cavaleri) 10.000 Hashasim (pasukan elit bersenjata panah, yang sempat menyerang pasukan Satyaki di perang Bharatayudha)
  • Pasukan negeri Sindhu. Negeri ini sangat subur dan maju. Dipimpin oleh Jayadratha, negeri Sindhu merupakan sekutu favourit Kaurava, disamping itu Jayadrata merupakan suami Dussala adik Duryodana. Mereka menyumbang 1 Akshauhini tempur lengkap. 150.000 infantri, 30.000 gajah, 30.000 kereta perang, 60.000 cavaleri.
  • Pasukan negeri Gandara. Pasukan ini disumbangkan oleh Sakuni yang licik. Dikisahkan negeri Gandara adalah penghasil gajah dan kuda terbaik. Pasukan gajah mereka ikut tercatat dalam perang Mahabharata. Tidak ada catatan resmi berapa banyak pasukan yang disumbangkan Sakuni dalam perang ini. Namun sebagai negeri yang Inferior. Dan menilik pangkat Sakuni hanya Ardharathika maka jumlah pasukannya mungkin sekitaran 50.000 prajurit, 10.000 cavaleri, dan 10.000 kereta perang dan gajah perang.
Pasukan Negeri Taklukan :
  • Pasukan provinsi Avanti, penguasa India tengah. Provinsi ini, sama seperti Anga di timur merupakan provinsi-provinsi Kuru yang kuat. Tidak disebutkan secara menonjol siapa saja yang memimpin pasukan dari India tengah ( madyadesa ). Namun diperkirakan mereka menyumbang 1 Akshauhini. 150.000 prajurit, 30.000 kereta perang, 30.000 gajah perang, dan 70.000 cavaleri.
Pasukan Sukarelawan :
  • Pasukan Negeri Madra. Madra sebenarnya merupakan sekutu Pandava, namun secara licik Duryodana telah menipu rajanya, yaitu Salya untuk bergabung dengannya. Salya sendiri merupakan kakak dari Madri ibu se kembar Nakula dan Sahadheva. Negeri ini dikisahkan sebagai salah satu negeri besar yang tidak berada di lingkaran kekuasaan Kuru. Mereka Independen dan kuat. Membawa sekitar 1 Akshauhini tempur lengkap. Mereka merupakan salah satu yang tertangguh di India saat itu. Namun mereka bertarung setengah hati.
  • 10.000 pasukan Narayani. Merupakan pasukan elit dari negeri Dwaraka. Saat Krisna dipilih oleh Arjuna sebagai kusir kereta perangnya. Kaurava kebagian 10.000 pasukan Narayani. Sebagai pasukan elit, kiprah mereka kurang terdengar dalam perang Mahabharata, ada kemungkinan mereka bertempur separuh hati.
  • Pasukan gajah negeri Pragjyotisha. Dipimpin oleh Bhagadatta yang agung berkekuatan 1 Akshauhini, (100.000 prajurit infantri, 40.000 gajah perang, 20.000 cavalery, 30.000 kereta perang). Bhagadatta sendiri sebenarnya adalah sahabat Pandu, ayah para Pandava.
  • Pasukan negeri Kekaya. Kemungkinan Negeri ibu dari Bharata (Adik Rama dalam Mahabharata). Negeri ini besar dan kuat. Uniknya negeri Kekaya membagi pasukannya sama rata. Mereka membantu keduanya, Pandava dan Kaurava. Ada kemungkinan telah terjadi pertalian darah antara Istana Kuru dengan negeri ini.
Pasukan bayaran ( Serdadu Mlecha ):
  • Pasukan Phalanx dari Ionia ( Yunani ). Orang orang Bharatavarsa (India kuno) sering menyebut mereka dengan sebutan Yavana. Pasukan ini tergabung dalam barisan batalion “ Mlecha “ yang berarti serdadu asing. Pasukan ini pada awal-awal perang ditugaskan menjaga kereta tempur Bhisma dari jangkauan Arjuna. Dengan bersenjatakan tombak, pasukan ini merupakan lawan yang paling dibenci para penunggang kuda maupun kereta perang. Namun merupakan sasaran empuk bagi penunggang gajah maupun pemanah.
  • Pasukan China. Mereka datang dengan panah dan lembing. Dikisahkan sebagai pasukan yang lemah hati dan tidak berbahaya. Tidak banyak dikisahkan kehebatan pasukan China dalam perang Mahabharata.
  • Sarka, Pishaka, Gandarwa, dan banyak lagi suku bangsa yang mengabdi pada Duryodana pada masa itu merupakan negeri negeri yang berada diluar negeri Bharatavasra. Jika dihitung-hitung dari 2,4 juta pasukan Kaurava, sekitar 60-65 % nya merupakan pasukan bayaran dan sukarela. Sekitar 35 % dari itu memang benar-benar pasukan asli dari negeri Kuru yang mau tidak mau membela Duryodana. Ini berarti jumlah mereka yang sebenarnya hanya 900.000 prajurit.

Dengan jumlah pasukan yang sebanyak itu dari pihak Kaurava coba sekarang bandingkan dengan Pandava yang memiliki 1,5 juta pasukan namun semuanya setia kepada mereka. (karena semuanya didapatkan dari karisma dan kebajikan Yudistira, serta hasil penaklukan Arjuna diwilayah wilayah selatan, sehingga dirinya mendapatkan sebutan Dananjaya ( lihat peta negeri-negeri pendukung perang Mahabharata )

1. Arjuna menggembosi Kekuatan Kekaisaran Kuru di selatan.

Sebelum perang terjadi, Yudistira mengutus adiknya, Arjuna, untuk menaklukan negeri negeri didaerah selatan untuk mendapatkan pengakuan dan pasukan mereka pada perang besar Bharatayudha. Pada zaman itu, prajurit dari suatu negeri akan bersumpah setia kepada seorang raja apabila orang tersebut mampu mengalahkan petarung terbaik dari negeri mereka dalam duel satu lawan satu. Dan tepat pada waktunya, Arjuna berhasil mengumpulkan 1,5 juta orang untuk berperang dibawah panjinya. Sebelumnya negeri-negeri di daerah selatan umumnya merupakan taklukan Istana Kuru.

2. Para Panglima Kuru Bertarung Setengah Hati

Tiga orang terbaik dalam Pasukan Kaurava yaitu Bhisma, Drona, dan Karna enggan membunuh Pandava karena mereka menyayangi Pandava. Karna sekalipun berjanji akan membunuh Arjuna, tetapi dia mengampuni nyawa-nyawa Bhima, Yudistira, Nakula, dan Sahadeva yang telah dia taklukan. hal ini memberikan kerugian yang jelas sangat besar bagi Kaurava.

3. Semua Panglima Pasukan Kuru dibunuh secara curang.

Bhisma, Drona, Karna, Salya semuanya merupakan panglima perang Duryodana yang termasyur, namun kesemuanya tewas bukan oleh kalahnya mereka dalam duel tanding namun karena faktor kecurangan semata.

Bhisma meletakan senjata saat berhadapan dengan Shikandi, Drona dibunuh saat meletakan senjata karena sedih. (yudistira membohonginya dengan mengatakan anak Drona, Ashvatama, telah tewas dalam perang).

Karna yang hebat terbunuh bahkan saat dia tidak siap. Salya yang tak terkalahkan, bahkan mengajari Yudistira cara membunuhnya saat Salya masih menjabat panglima tertinggi pasukan Kuru yang tersisa.

Dengan melihat fakta-fakta diatas, sebenarnya Duryodana dan Kaurava memang berada dalam garis yang lebih inferior dibandingkan Pandava. Sudah sewajarnya dia kalah, atau semestinya Duryodana menyadari hal itu dari awal dan tidak melanjutkan perang

Om Santih, Santih, Santih Om.

Referensi :

https://web.facebook.com/notes/mahabharata-mahabharat-antv/perang-mahabharata-dalam-kisah-yang-sebenarnya/1529098027325893
https://id.wikipedia.org/wiki/Silsilah_Dinasti_Candra
http://en.wikipedia.org/wiki/Mahabharata
http://www.hindunet.org/hindu_history/ancient/mahabharat/mahab_reality.html
http://cari-kata.blogspot.com/2008/11/perang-mahabharata-dalam-kisah-yang.html

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Japa Mantra Om Namah Siwaya (Siwa) dan Urutan Pengucapannya

Mitos dan Asal Usul Ulat Lulut

Nabi Disetiap Agama, Bagaimana Dengan Nabi Di Hindu?