Filsafat Vedanta Dalam Kaitannya Dengan Ketuhanan Di Hindu





Om Swastiastu,

Setelah film Mahabharata di munculkan dan sempat booming di stasiun TV swasta, (mungkin beberapa orang) mulai memiliki pertanyaan pertanyaan, misalnya :
  • Dewa tertinggi Wisnu atau Siwa? 
  • Siapa yg lebih kuat Dewa Wisnu atau Dewa Siwa? 
Mohon maaf ini hanya untuk meluruskan dan mempertegas biar tidak mengacaukan konsep. Nah kita mulai dari filsafat Hindu. Filsafat Hindu ada enam yang disebut dengan Sad Darsana yaitu Samkya, Yoga, Mimamsa, Nyanya, Waisesika dan Wedanta.


Filsafat Samkya diperkenalkan oleh Maharsi Kapila, Yoga oleh Maharsi Patanjali, Mimamsa oleh Mahasri Jaimini, Nyanya oleh Maharsi Gotama dan Filsafat Vedanta diperkenalkan oleh Maharsi Vyasa (yg di Mahabharata itu looh).

Nah singkat saja, begini :

Dalam Filasafat Vedanta, tradisi Hindu tentang DEWA itu ada 2 konsep yaitu :
  • Advaita Vedanta (non dualisme) menjelaskan bahwa Dewa itu dipandang sebagai Manifestasi Brahman (Sang Hyang Tunggal/Tuhan) dan dewa itu dipuja memiliki kedudukan setara/sederajat. Advaita Vedanta sendiri secara sederhana bisa dipahami sebagai Pengetahuan Ketuhanan yang memandang bahwa Tuhan itu tunggal. Hanya ada satu-satunya. Dan pendekatan yang digunakan adalah Tuhan dalam wujud nirguna.
  • Dvaita Vedanta (dualisme) menjelaskan bahwa para Dewa tertentu memiliki sekte tertentu pula yang memujanya sebagai Dewa tertinggi. Jadi Tuhan yang dibahas dalam wujud saguna dan selalu terdiri dari dua sisi—feminin dan maskulin. Dalam hal ini, beberapa sekte memiliki paham monotheisme terhadap Dewa tertentu, misalnya Pemuja dewa Wisnu sebagai dewa tertingi disebut sekte Waisnawa, Pemuja Siwa sebagai dewa tertinggi disebut sekte Saiwa, pemuja krisna disebut Hare Krisna dan lain-lain.... 
Hindu di Bali menggunakan 2 konsep itu (Dwaita & Adwaita) sedangkan Hindu di India lebih condong ke Dwaita Vedanta.

Yang manakah yg benar dari kedua jenis filsafat ini?


Keduanya benar sampai keadaan tertentu. Semuanya tidak benar dalam keadaan tertentu. Karena itulah seorang pelajar spiritual yang sungguh-sungguh mempelajari spiritual dari seorang Guru biasanya tidak memakai cara belajar melalui sistem-sistem filsafat ini.

Tetapi langsung belajar cara untuk 'mengakses' KEBENARAN (TUHAN) itu sendiri. Mereka yang bisa mengakses Kebenaran itu sendiri tidak lagi bisa dibingungkan oleh segala macam sistem filsafat yang dibangun oleh para terpelajar untuk memuaskan keingintahuan mereka. Dengan 'mengalami' Kebenaran itu sendiri, siapa saja akan mampu menjawab semua pertanyaan yang ada

Tapi, karena tipe manusia memang berbeda-beda, dan Hindu memberi tempat untuk semua jenis manusia agar dapat berkembang, maka sistem-sistem filsafat ini meskipun rumit dan menciptakan labirin pengetahuan bagi orang biasa, tetap bisa tumbuh dan memiliki 'penggemarnya' sendiri-sendiri.

Bagi mereka yang mencintai Kebenaran itu sendiri, dan memilih jalan yang paling mudah yaitu jalan bhakti, filsafat-filsafat Ketuhanan ini sungguh tidak menarik. Bagian menariknya justru, saat para bhakta ini mampu ‘bertemu’ dengan Kebenaran itu, mampu ‘mengalami’ Kebenaran itu, maka seluruh hal yang dibahas dalam seluruh sistem filsafat yang rumit dan bertele-tele itu akan dapat dipahami dengan seketika.

Nyaris tanpa usaha. Hanya berkah dari pertemuannya dengan Kebenaran itu sendiri telah memampukannya untuk memperoleh pengertian yang mendalam tentang berbagai hal yang membingungkan para terpelajar dan para pelajar.

Tapi sekali lagi, manusia berbeda-beda. Kebutuhan manusia berbeda-beda. Ibarat rumah yang luas, besar dan nyaman, Hindu Dharma menyediakan tempat untuk segala jenis manusia dengan segala kebutuhannya dalam rangka memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar. Yaitu kebutuhan untuk mengenali siapa dirinya dan siapa Tuhannya.

Tambahan


Dalam terminologi Hindu Dharma, realitas Tuhan memiliki tiga aspek utama yang mampu diketahui, yang pertama sebagai sebab awal dari segala yang ada, yang kedua sebagai pelindung dari apa yang ada dan bersumber dari-Nya dan yang ketiga adalah sebagai tujuan tertinggi dari semua pencapaian spiritual yang muncul dari kesadaran, apa yang disebut peleburan.

untuk masing-masing aspek tersebut Tuhan memiliki deskripsi-Nya sendiri, adapun yang pertama adalah Brahma sumber dari apa yang ada, yang kedua Vishnu yang menjadi pelindung Dharma dan segala yang ada, dan yang ketiga Siwa yang menjadi pelebur segala yang ada kembali kepada-Nya sendiri sebagai sumber dari segala yang ada.

sebagai sebuah kesimpulan, bahwa segala yang ada bersumber dari Tuhan, dibawah kendali dan perlindungan Tuhan, dan kemudian dilebur dan kembali kepada Tuhan.

apa yang disebut Nirgunam Brahman adalah realitas mutlak Tuhan tanpa nama, tanpa atribut, tanpa identitas apapun, tidak dapat dijabarkan, dipecah, dipisahkan, diluar semua jangkauan pencitraan, atau deskripsi apapun, tidak terjelaskan.

kemudian apa yang dikenal sebagai Sagunam Brahman adalah realitas personal Tuhan, yang dipengeruhi oleh kehendak-Nya sendiri, untuk mewujudkan perwujudan-Nya, dalam berbagai bentuk sifat, deskripsi kepribadian personal dan perwujudan apapun yang tidak terbatas dan tidak bisa dibatasi oleh apapun atau siapapun.

Dari masing-masing perwujudan personalnya tersebut lah hadir perwujudan para Dewa yang merupakan sinar dari Tuhan yang memiliki masing-masing sifat-Nya.

Sebagai sebuah kesimpulan bahwa Tuhan adalah sumber adanya para Dewa, dan para Dewa itu adalah Tuhan itu sendiri, sampai kapanpun Tuhan itu ada sampai saat itu para Dewa akan tetap ada.

Om Santih, Santih, Santih Om

Referensi :
https://web.facebook.com/notes/mahabharata-mahabharat-antv/filsafat-vedanta/1472864942949202
Dari berbagai literatur & Oleh Vedanta Yoga - www.facebook.com/vedanta.yoga
Disqus Comments