Posts

Showing posts from February, 2017

Menguak Jati Diri Sabda Palon Dan Nayo Genggong Serta Ramalan Kebangkitan Ajaran Siwa-Budha/Syiwa Budha/Hindu-Budha Di Nusantara

Image
Om Swastiastu,
Menguak ramalan-ramalan yang terjadi pada akhir masa-masa kerajaan Majapahit memang menarik untuk kita lakukan. Ramalan-ramalan yang paling populer adalah tentang kemunculan sabdapalon kembali dan tegaknya ajaran siwa-budha di bumi nusantara.
Siapa sebenarnya Sabdapalon dan nayagenggong?
Sabdapalon adalah pandita dan penasehat Brawijaya V, penguasa terakhir yang beragama Hindu dari kerajaan Majapahit di Jawa (memerintah tahun 1453 – 1478 )
Tidak diketahui apakah tokoh ini benar-benar ada, namun namanya disebut-sebut dalam Serat Darmagandhul, suatu tembang macapat kesusastraan Jawa Baru berbahasa Jawa ngoko. Dalam Serat tersebut, disebutkan bahwa Sabdapalon tidak bisa menerima sewaktu Brawijaya digulingkan pada tahun 1478 oleh tentara Demak dengan bantuan dari Walisongo (walaupun pada umumnya dalam sumber-sumber sejarah dinyatakan bahwa Brawijaya digulingkan oleh Girindrawardhana).
Ia lalu bersumpah akan kembali setelah 500 tahun, saat korupsi merajalela dan bencana mel…

Hindu Membelakangi Dunia? Benarkah? Simak Ulasan Berikut Ini (Keterkaitan Antara Catur Asrama dan Catur Purusa Artha)

Image
Om Swastiastu,

Suatu percakapan yang dimuat dalam sebuah buku Hindu Menjawab tentang hakekat dan tujuan Agama Hindu. Dalam percakapan tersebut ada yang bertanya, seperti ini :

Agama Hindu mengajarkan manusia untuk membelakangi dunia, contonya banyak cerita-cerita yang menggambarkan kalau Agama Hindu mengajarkan umatnya untuk pergi kehutan dan meninggalkan keluarganya.

Jika ditelaah lebih dalam lagi, orang tersebut hanya melihat dari apa yang orang lakukan sebagai suatu yang primitif dan tidak mau mengikuti perkembangan jaman. Singkatnya begini, apa iya jaman canggih seperti ini masih saja umat hindu disuruh ke hutan oleh agamanya? berarti takut atau tidak mau mengikuti perkembangan jaman?

Mereka yang bertanya seperti itu kemungkinan tidak mengerti tentang filosopi dan tahapan hidup manusia, menganggap apa yang ditertulis itulah arti sesungguhnya. Agama Hindu adalah Agama yang universal, tidak agama yang berkaca mata kuda, yang hanya mengartikan satu hal pada satu sudut saja.

Dalam agam…

Kisah Kelahiran Dewi Satyawati Dan Maharesi Wyasa (Serta Kisah Satyawati Sang Pemantik Perang Bharatayudha)

Image
Om Swastiastu,

Berikut ini saya ceritakan kisah kelahiran Dewi Satyawati dan Maha Rsi Wyasa. Semoga bermanfaat untuk dan menambah wawasan umat sedharma.


Ada seorang raja di kerajaan Chedi yg bernama Uparichara. Beliau adalah raja yang sangat baik dan bijaksana sehingga dewa indra menganugrahkannya sebuah wimana (semacam kereta terbang yg digunakan rahwana saat mnculik dewi sita)

Suatu hari beliau melanglang buana di angkasa dengan wimana tersebut. Melihat keindahan alam di kerajaannya, beliau langsung teringat dengan istrinya tanpa disadari air kama (air kehidupan) dari raja Uparichara keluar dari tubuhnya dan langsung jatuh di sungai yamuna. Air kama itu langsung ditelan oleh seekor ikan yg merupakan jelmaan dari bidadari yg brnama adrika yang dikutuk untuk menjadi seekor ikan. Dia bisa kembali ke kahyangan jika melahirkan anak manusia yg kembar buncing (laki dan perempuan ).

Singkat kata, ikan itupun hamil dan tertangkap jaring nelayan, saat si nelayan yang bern…

Mengenal Makna Penggunaan Tilak Dan Bindi (Sering Dilakukan di India)

Image
Ketika kita menonton kisah Mahadewa, Ramayana dan Mahabharata di Televisi. Para Pemeran Menggunakan Tanda di dahinya. Tahukan apa maksudnya? Tanda itu disebut Tilak.

Apa itu Tilak?
Tilak merupakan simbul pikiran kesucian. Itu diyakini sebagai tanda religius. Bentuk dan warna bervariasi sesuai dengan golongan seseorang, sekte agama atau Manifestasi Tuhan yang disembah. Tanda suci yang dikenakan didahi pria dan wanita menggunakan abu, tanah liat, kumkum (bubuk kunyit merah) atau bubuk cendana. Ini adalah tradisi Hindu.

Pada jaman dulu, Brahmana menggunakan tanda putih sebagai simbol kemurnian. Ksatria menggunakan kumkum berwarna merah. Waishya mengenakan kuning atau kunyit. Sudra menggunakan bhasma warna hitam, kasturi atau arang. Para penganut Waisnawa (Pemuja Wisnu) menggunakan tilak berbentuk "U," Pemuja Shiva penyembah sebuah tripundra dari bhasma , Pemuja Devi berupa titik merah terbuat dari kumkum.


Saivisme biasanya menggunakan abu (disebut Vibhuti) dan membentuk tilak b…

Mengenal Sekte - Sekte Dalam Agama Hindu

Image
Sebagaimana yang terdapat dalam agama-agama besar lainnya, maka dalam agama Hindu juga terdapat aliran-aliran atau sekte-sekte yang masing-masing mempuyai konsepsi tersendiri dalam menanggapi beberapa segi ajaran agama yang dipandang lebih penting dari ajaran pokoknya. Pada umumnya sekte-sekte dalam hinduisme ini meletakkan dasarnya dalam masalah metode mencapai kelepasan dari samsara serta masalah filsafat atau teologinya.


Kita menyadari bahwa semua orang ingin mendapatkan jalan yang semudah-mudahnya untuk mencapai tujuan (cita-cita) dengan hasil semaksimal mungkin. Demikian juga halnya dengan usaha sekte-sekte ini dalam mencapai tujuan hidupnya
Agama hindu setelah mengalami perkembangannya lebih lanjut maka sejak 350 SM, timbullah berbagai macam penafsiran atas kitab weda dalam bentuk pemikiran-pemikiran filsafat, sebagaimana kitab-kitab Brahmana, Upanishad, Purana, Aranyaka, Bhagavadgita dan lain sebagainya.

Dengan timbulnya kesusasteraan kitab-kitab suci yang kesemuannya mengambil…

Beberapa Kejadian Saat-Saat Sebelum Perang Mahabharata di Mulai

Image
Om Swastiastu,

Hampir semua orang sudah siap berperang. Kedua belah pihak telah berkumpul di kubu masing-masing. Demi kehormatan dan kemuliaan perang kaum kesatria, mereka bertekad untuk memegang teguh aturan-aturan perang dalam melancarkan serangan dan gempuran terhadap lawan.


Perang di jaman itu dibatasi dengan aturan-aturan yang berbeda dengan aturan di jaman-jaman yang kemudian, aturannya sebagai berikut :

Menjelang matahari terbenam, perang harus dihentikan dan masing-masing pihak kembali ke kubu pertahanan untuk beristirahat. Sering terjadi, pihak-pihak yang bermusuhan berkumpul dan bergaul bebas dalam suasana persaudaraan selama matahari berada dalam peraduannya. Mereka melupakan segala peristiwa yang terjadi siang harinya. Tidak seorang pun dibenarkan mengangkat senjata atau mengepalkan tinju di malam hari .Pertarungan satu lawan satu hanya boleh dilakukan di antara dua pihak yang setara. Tidak seorang pun boleh berbuat sesuka hati di luar aturan-aturan dan norma-norma yang tel…