Menguak Jati Diri Karna Sang Putra Surya Di Kehidupan Yang Lalu





Om Swastiastu,

Sebagian dari kita mungkin sudah tahu siapa itu Karna, ya karna sang ksatria putra Bhatara Surya. Kita kenal Karna sebagai sosok ksatria yang dalam perang Mahabharata membela kubu Adharma meskipun dia sendiri tahu siapa Dharma yang sebenarnya.

Mungkin kita juga akan bertanya, kenapa Karna tidak membela Dharma padahal Dia tau mana yang benar dan mana yang salah.

Sebagian dari kita mungkin juga ada yang mengatakan begini, "Karna adalah ksatria sejati. Dia membela Duryodhana karna merasa berhutang budi yang besar".

Memang semua penyataan-pernyataan itu benar semua, jika ditelaah kejadian-kejadian tersebut adalah faktor pendukung terhadap phala yang akan dia dapatkan dari karma masa lalunya.


Karna putra Bhatara Surya

Karna adalah Reinkarnasi dari Iblis jahat (Asura / Rakshasa) bernama Sahasra Kavacha / Dambhodbhava / Tanasura yang  telah menindas jutaan manusia tak berdosa dan para Brahmana dan juga telah menciptakan kekacauan di Bumi  & Swargaloka. Sementara Arjuna adalah inkarnasi dari seorang Rsi yang bernama Nara (yang juga merupakan pendamping dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Narayana / Dewa Wisnu). Ini adalah alasan mengapa Karna lahir dengan nasib malang karena karma jahatnya dan dosa yang dilakukan dalam kelahiran sebelumnya.

Flashback


Dahulu, hiduplah seorang Asura disebut Dambhodbhava. Dambhodbhava ingin menjadi sangat kuat. Jadi dia berdoa kepada Dewa Surya.

Setelah sekian lama berdoa, hingga akhirnya Dewa Surya muncul di hadapannya,
"Bukalah matamu, Aku senang dengan pengabdian mu"

Dambhodbhava membungkuk di hadapan Dewa Surya,
"Dewa, aku sangat diberkati karena dapat melihatMu"

Dewa Surya tersenyum,
"Atas Bhaktimu, Aku akan memberimu suatu anugrah, mintalah kepadaKu"

Dambhodbhava sesakan - akan menyembunyikan senyumnya,
"Dewa Surya, aku memujamu, aku ingin meminta Keabadian..berilah aku anugrah Keabadian"

Dewa Surya berkata,
"Ketahuilah, setiap Mahluk hidup yang terlahir di dunia ini, haruslah mati pada akhirnya, agar Alam tetap seimbang. Kecuali ada takdir yang harus dipenuhi. Jadi, hal itu tidak mungkin Aku berikan kepadamu. Karena tidak ada yang akan abadi di dunia ini.."

Dambhodbhava berpikir kembali dalam benaknya, bagaimanapun caranya, Dewa Surya akan tetap tidak memberikan Keabadian, dan hal itu memang benar. Lalu ia berkata,
"Tuhanku, kalau begitu berilah aku Seribu Pakaian Baja (Kavacha) yang akan melindungi tubuhku ini, dan hanya orang yang melakukan tapa ribuan tahun lamanya yang bisa menembus Baju Bajaku, dan orang itu akan mati setelah menembus Baju Bajaku ini. Oh, Dewa Surya..."

Dewa Surya mulai khawatir, karena takut anugrah ini akan digunakan untuk berbuat jahat dan merusak dunia. Namun Dewa Surya kagum akan pengabdian Dambhodbhava yang telah melakukan penebusan dosa yang sangat kuat. Akhirnya, Dewa Surya mengabulkan permohonan Dambhodbhava, dengan memberinya seribu Kavacha dan seribu anting - anting di seribu kepalanya. Dan semenjak saat itu Dambhodbhava dikenal sebagai Sahasrakavacha (Sahasra = seribu, Kavacha = baju pelindung) dan ia menggunakan kekuatannya untuk berbuat jahat

Saat itu, Dewi Murti putri dari Raja Daksa, ingin mengakhiri ancaman Sahasrakavacha dan berdoa kepada Dewa Wisnu. Dewa Wisnu muncul di hadapannya dan memberi anugrah bahwa beliau akan terlahir sebagai putranya dan akan menjadi penyebab kematian  Sahasra Kavach. Dewi Murti senang, selanjutnya ia melahirkan tidak satu anak, tapi anak - anak kembar. Ia menamai mereka sebagai Narayana dan Nara.

Narayana dan Nara dibesarkan di asrama yang dikelilingi oleh hutan. Mereka adalah pemuja Dewa Siwa yang setia. Ibu mereka juga mendorong mereka untuk belajar ilmu kesaktian. Dua bersaudara itupun belajar seni perang. Mereka  tak terpisahkan. Keduanya saling percaya dan tidak pernah meragukan yang lainnya .

Seiring berjalannya waktu, Sahasrakavacha mulai menyerang area sekitar hutan Badrinath, dimana Narayana dan Nara tinggal disana. Nara pergi mendatangi Sahasrakavacha dan menantangnya. Sahasrakavacha meremehkan Nara dan berkata bahwa tidak ada satu orang pun yang akan mampu mengalahkannya dan menembus baju saktinya, namun Nara hanya tersenyum dengan tenang
Sahasrakavacha menatap mata tenang Nara dan untuk pertama kalinya merasa ada ketakutan dalam dirinya.

Dia berkata gugup, "Aku bisa dibunuh hanya dengan melakukan penebusan dosa selama seribu tahun!“

Nara menatap Sahasrakavacha dan berkata. "Aku tidak melakukan penebusan dosa apapun, tapi adik ku Narayana, melakukannya untuk ku. Namun bukan dia, tapi akulah yang datang untuk melawanmu"

Sahasrakavacha mengangkat senjata dan pertarungan dimulai. Sahasrakavacha menghadapi serangan Nara dan terkejut. Ia menyadari bahwa Nara sangat kuat dan memang mendapat banyak kekuatan  dari saudaranya, Narayana. Baju Baja pertama Sahasrakavacha pecah ia menyadari bahwa Nara dan Narayana adalah satu. Mereka hanya dua orang yang mempunyai jiwa yang sama. Tapi Sahasrakavacha tidak terlalu khawatir. Dia hanya kehilangan salah satu bajunyanya dan segera Nara pun menemui ajal.

Narayana tersenyum dan menatap saudaranya . Dia menutup matanya dan mengucap mantra. Sahasrakavacha tidak bisa percaya saat melihat Nara hidup lagi. Sahasrakavacha merasa ketakutan saat ia menyadari bahwa Narayana telah melakukan pertapaan selama seribu tahun dan telah memperoleh 'Mritunjay Mantra' (Mantra untuk menghidupkan kembali orang yang telah meninggal).

Begitu seterusnya hingga Nara berhasil menembus ke 999 Baju Bajanya. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah bisa mengalahkan dua bersaudara, Sahasrakavacha menyerah dan melarikan diri. Dia memutuskan untuk berlindung kepada Dewa Surya, karena Dewa Surya yang telah memberinya anugerah.

Narayana dan Nara keduanya pergi menghadap Dewa Surya, dan meminta Dewa Surya menyerahkan  Sahasrakavacha , namun Dewa Surya menolak karena Sahasrakavacha adalah pemuja setia-Nya. Nara menjadi marah dan mengutuk Dewa Surya kelak sebagian dari energinya dan jiwa Sahasra Kavacha menjadi satu terlahir mejadi manusia dan akan mengalami banyak kemalangan semasa hidupnya.

Kejadian ini berlangsung pada akhir Treta Yuga. (Dalam keyakinan Hindu ada empat Yuga - Satya YugaTreta Yuga, Dwapara Yuga dan Kali Yuga. Setiap Yuga terus mengalami kerusakan nilai-nilai kemanusiaan dengan yang terburuk di Kali Yuga. Pada akhir setiap yuga, alam dimurnikan dan diciptakan kembali).

Masa Perang Bharata Yudha


Segera setelah itu, Treta Yuga berakhir dan dimulai lah awal Dwapara Yuga. Untuk memenuhi janji untuk menghancurkan Sahasra Kavacha, Narayana dan Nara terlahir kembali - kali ini sebagai Krishna dan Arjuna.

Karena kutukan Nara, Sahasrakavacha terlahir sebagai Karna, putra sulung Dewi Kunti. Karna lahir dengan salah satu baju pelindung dan anting sebagai perlindungan alami, yang terakhir yang tersisa milik Sahasrakavacha saat bertarung melawan Nara dan Narayana.

Petikan Karmaphala


Karna adalah seorang Pahlawan, Ksatria yang gagah berani, yang menjunjung tinggi kesetiaan dan kebenaran. Namun, karena Karna sebenarnya adalah Raksasa Dambodbhava / Sahasrakavacha dalam kehidupan sebelumnya, dan telah melakukan banyak kejahatan, maka ia terlahir sebagai manusia untuk membayar semua dosa yang dilakukan olehnya dalam kehidupan masa lalunya.


***

Itu membuktikan siapapun kita dan kapanpun waktunya, karmaphala akan selalu menjumpai kita, jadi selalu lakukan dharma sebanyak mungkin, agar phala buruk bisa terhindar.

Om Santih, Santih, Santih Om

Disqus Comments