Inti Dari Makna Sarana Persembahyangan Bunga, Air (Tirtha) dan Dupa (Asap) Bagi Umat Hindu





Om swastiastu,

Barangkali dari sebagian kalian yang baca postingan ini pernah ditanya oleh teman-teman Non Hindu. Barangkali kalian yang sedang berada di luar Bali pasti paling sering ditanya hal-hal seperti ini :

kok kalian sembahyang pake bunga? kok pakai dupa/menyan? kok pakai air, memangnya Tuhan kamu haus ya?

Jika baru pertama kali dengar pertanyaan seperti itu, bisa jadi kuping bakalan panas hahaha. Awalnya saya juga seperti itu, marah karna seringnya ditanya ini dan itu seakan Agama Hindu seperti penyembah setan bagi meraka

Namun jujur kalaupun saya menjawab saya tidak tau harus jawab apa, yang saya tau itu dilakukan dari dulu, ya kalo istilah balinya "nak mula keto uli pidan"

Saya yakin sebagian dari kalian yang baca postingan ini pasti tidak tahu juga apa kegunaan dari sarana persembahyangan Bunga, Dupa dan Air? Jadi tidak ada salahnya saya sharing beberapa hal yang saya tau dari makna sarana persembahyangan tersebut :


BUNGA

Bunga sebagai sarana persembahyangan memiliki dua makna yaitu

  • Bunga sebagai simbol Tuhan
  • Bunga sebagai sarana persembahyangan

Bunga sebagai simbol Tuhan, bunga diletakan tersempul pada ujung kedua telapak tangan dan dicakupkan pada saat menyembah. Dosen Agama Hindu saya pernah bilang bahwa karna bunga itu sebagai simbol Tuhan, oleh karna itu bungan dijadikan persembahan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, makanya setelah sembahyang menyembah bunga disuntingkan ditelinga.

Warna - warna umum bungan yang digunakan dalam persembahyangan adalah sebagai berikut :

  • Bunga berwarna putih digunakan untuk menyembah Tuhan dalam sebutannya sebagai Iswara. Dewa Iswara memiliki kekuatan seperti Badjra dan juga Dewa Iswara memancarkan sinar berwarna putih.
  • Bunga berwarna merah digunakan untuk menyembah Tuhan dalam sebutannya sebagai Dewa Brahma. Dewa Brahma memiliki kekuatan seperti Gada. Dewa Brahma memancarkan sinar berwarna merah.
  • Bunga berwarna hitam (biasanya diganti dengan bunga berwarna biru) digunakan untuk menyembah Tuhan dalam sebutannya sebagai Dewa Wisnu. Dewa Wisnu memiliki senjata Cakra. Dewa wisnu memancarkan cahaya berwarna hitam
  • Bunga berwarna kuning digunakan untuk menyebah Tuhan dalam sebutannya sebagai Mahadewa. Mahadewa memiliki kekuatan Nagapasa dan memancarkan sinal berwarna kuning.

Tirtha

Air adalah salah satu komponen yang penting dalam proses pesembahyangan dalam Hindu. Dalam Hindu air yang suci disebut Tirtha.

Terlepas dari berbagaimacam jenis tirtha, fungsi tirtha secara umum adalah sebagai pembersih diri dari kotoran maupun hal-hal negatif yang ada dalam pikiran maupun sekitar badan kasar.

Bagaimana proses/cara menerima tirtha setelah persembahyangan?

Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, di minum, dan di usapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda dan idep.

Jika kita lihat rata-rata orang melakukannya 7 kali ketisan, yaitu :

1. Di kepala tiga kali
2. Di tangan untuk diminum tiga kali
3. Di kepala satu kali

Ketika saya berada di luar Bali, sewaktu kuliah, disana setiap kali nunas tirtha selalu 10 kali. Urutannya seperti berikut ini :

1. Di kepala 3 kali
2. Di tangan untuk diminum 3 kali
3. Di tangan untuk membasuh muka 3 kali
4. Di kepala 1 kali

Keduanya adalah benar. Tergantung bagaimana orang/penglingsir pura tersebut melakukannya dari turun-temurun. Tidak ada hal yang salah atau tidak sesuai diantara keduanya. Bagi saya ketika sembahyang kesuatu tempat, saya selalu mengikuti Desa-Kala-Patra nya


Api/Asap/Dupa

Yang terakhir adalah api/dupa/asap yang digunakan saat persembahyangan. Jika di India kita melihat mereka menggunakan api sebagai saranannya. Di Indonesia kita melihat sarana yang digunakan adalah Dupa. Keduanya sama, karena memiliki maknanya satu yaitu melambangkan Dewa Agni.

Dupa digunakan sebagai persembahyangan memiliki beberapa makna :

1. Sebagai saksi atas persembahyangan yang kita lakukan
2. Sebagai perantara suci penghubung antara pemuja dan yang dipuja (antara manusia dan Tuhan)
3. Sebagai pembasmi kotoran atau roh-roh jahat

Beberapa sifat api memiliki peranan penting :

  • Panas api meresap kesegala penjuru baik udara, air, tanah, tumbuh-tumbuhan maupun mahkluk hidup yang lainnya
  • Asapnya bisa terangkat ke angkasa mengeluarkan sinar yang putih berkilauan, ke segala penjuru mata angin

Sifat-sifat tersebut menyebabkan api dipergunakan sebagai alat perantara antara bumi bersama langit, manusia beserta Tuhan, antara ciptaan Tuhan dan selaku pembawa persembahan. 

Cahayanya memancar ke segala penjuru mata angin mengakibatkan api dipergunakan untuk menerangi disetiap kegelapan. Nyalanya yang berkobar-kobar sejatinya akan membakar segala hal yang dilemparkan kedalamnya hingga dipercaya menjadi pembasmi penderitaan, malapetaka dan noda.

Api dengan sebutan Dewa Agni merupakan Dewa atau sinar suci Tuhan yang selalu dekat, hal ini bisa dilihat nyata oleh manusia hingga api dipercaya menjadi saksi dalam kehidupan.

Dalam Reg Weda serta Sama Weda disebutkan bahwa api mempunyai peranan sebagai berikut :
Api (Agni) merupakan Dewa pengusir Raksasa serta membakar habis semua mala dan dijadikannya suci. (Regweda VII 15 : 10)
Api merupakan penghantar upacara, penghubung manusia kepada Brahman. (Regweda X, 80 : 4)
Hanya Agni (api) pimpinan upacara Yajna yang sejati menurut Weda. (Regweda VIII 15 : 2)

Maka tidak heran jika kita pernah mendengar dulu banyak yang melakukan penyucian diri dengan cara membakar diri di api (Entah bagaimana penjelasan detailnya saya tidak berani membahasnya karna memang belum tahu).

Itu adalah beberapa point penting yang bisa saya sampaikan terkait dengan makna sarana persembahyangan dalam Umat Hindu. Semoga dengan penjelasan singkat saya tersebut setidaknya teman-teman bisa menjawab secara logis pertanyaan orang-orang tentang saran yang Umat Hindu gunakan.

Jika ada saran atau tambahan bisa ditambahkan di komentar, nanti akan saya update lagi artikelnya. Suksma

Om Santih, Santih, Santih Om.

Disqus Comments