Bali Berkabung! Sudah Benarkah Kita Meperlakukan Tempat Suci?





Om Swastiastu,

Bali berkabung! ya mungkin itulah kalimat yang saat ini bisa kita ungkapkan atas rentetan kejadian bencana alam dan sejenisnya yang terjadi di Bali.

Jika melihat kejadian alam yang saat ini terjadi di Bali, kita bisa katakan bahwa bencana alam yang terjadi saat ini memang murni akibat faktor alam, semacam hujan yang lebat beberapa hari dan tidak pernah berhenti.

Bagi kebanyakan orang diluar dan BMKG-sekalipun akan berbendapat demikian, daerah tertentu bisa saja mengalami hal yang serupa di musim seperti ini.

Namun sebagai orang Hindu-Bali, tidakkah kita merasa ada yang aneh selama kejadian-kejadian ini? Tidak kah kejadian-kejadian alam tersebut membuat pertanyaan-pertanyaan besar dalam diri kita?

Sebelum masuk terlalu dalam ke pertanyaan-pertanyaan diatas, mari kita ingat-ingat kembali kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.
  • Selasa, 19 November 2016. Pura di sekitaran obyek wisata Sangeh hancur tertimpa pohon sekitarnya
  • Sabtu, 10 Desember 2016, Desa Buduk kebanjiran dan beberapa pelinggih terendam, bahkan ada yang hancur.
  • Rabu, 21 Desember 2016, Banjir dan tanah longsong terjadi di Desa Pancasari, Bedugul dan sampe merusak areal pura.
  • dll (dari awal tahun 2016)
Perhatian :
Ini adalah pendapat pribadi saya sebagai penulis tentang kejadian-kejadian yang terjadi saat ini. Ketika menyadari dimana mana entah kenapa saya memiliki rasa yang berbeda, jadi saya ingin mengulasnya disini, mungkin ada umat sedharma yang memiliki pendapat berbeda.

Saya merasa ada benang merahnya (keterkaitan) diantara kejadian-kejadian tersebut, entah itu apa, tapi saya memiliki perasaan sedih dan kecewa yang mendalam.

Kalau tidak salah juga, pada awal tahun terjadi hal yang sama, karena hujan + angin yang kencang, Pura Puncak Sari di banjar Temacun, Desa Pakraman Mekarsari, Baturiti, Tabanan juga hancur ditimpa oleh pohon besar yang katanya berusia ratusan tahun.

Pura Pucak Sari, Banjar Temacun, Mekarsari, Baturiti

Kemarin pada saat tahu ada kejadian banjir di pancasari, Bedugul, saya memutuskan untuk melewati daerah tersebut, kebetulan saya mau pulang ke Singaraja dan kebetulan juga untuk sepeda motor masih bisa melewati jalan tersebut dengan gampang.

Ketika lewat tepat di depan pura Ulun Danu, hati saya merasa tersentak melihat areal pura tersebut penuh dengan lumpur dan dan sampah-sampah sisa banjir.

Sambil melanjutkan perjalanan pulang, saya bertanya-tanya dalam diri, apakah ini Ida Sanghyang Widhi Marah? Apakah leluhur kita tidak senang dengan perlakuan kita sekarang-sekarang ini?

Kenapa saya bisa memiliki pertanyaa seperti itu? Pertama-tama mari kita lihat disekeliling kita, Pura yang harusnya jadi tempat suci dan sakral, harusnya tidak sembarang orang bisa memasukinya tanpa tujuan yang jelas (Misalnya sembahyang).

Fakta yang terjadi saat ini di Bali (Sebagian besar)

Kita semua pasti tahu tempat ini, Sangeh adalah salah satu tempatwisata yang dikenal oleh banyak orang. Didalamnya terdapat Pura Pucak Sari.

Pura Pucak Sari, Sangeh

Banyak orang dipersilakan masuk ke areal pura untuk sekedar melihat-lihat, ambil gambar, dan kesenangan lainnya.

Tidakkah itu akan melunturkan kesucian dan kesakralan Pura tersebut? Pura yang seharunya didatangi hanya untuk Sembahyang, kita beralih fungsi menjadi tempat mencari hiburan duniawi, foto, video dll.

Disamping itu, kita tidak akan tahu meraka-mereka yang masuk ke areal pura apakah benar-benar bersih atau tidak? Cuntaka atau tidak? Bisa saja meraka bilang "Saya tidak sedang cuntaka kok, pak". Siapa yang tahu, mereka yang datang jauh-jauh ke Bali pasti tidak mau rugi dong kalau tidak dapat melihat/masuk ke areal pura yang katanya disakralkan di tempat yang bersangkutan.

Sama seperti di pura Ulun Danu, Bedugul. Saya melihat orang/wisatawan pake baju seksi/jilbab, celala pendek, celana robek-robek lalu-lalang masuk ke areah pura padahal pada saat itu ada banyak pemedek yang tangkil membawa aneka banten


Pura Teratai Bang, Bedugul

Bukankah hal seperti itu mengurangi nilai spiritual dipura tersebut? Dimana kita letakan kesucian pura, jika wisatawan yang tidak ada hubungannya dengan pura tersebut boleh lalu-lalang masuk.

Walaupun mereka memakai selendang dan kamen, apakah berarti diperbolehkah begitu saja masuk se enaknya kepura?

Pura yang dibangun dengan Taksu, perlahan-lahan sirna dan menjadi campah ketika banyak orang dapat masuk se enaknya, dan melakukan aktifitas diluar dari keagamaan.

Karena terlalu gampangnya masuk ke areal pura, maka jangan heran banyak foto-foto yang memperlihatkan orang naik ketas pelinggih, mengangkat kaki sampe tingginya hampir seperempat pelinggih-pelinggih atau patung-patung kecil yang disucikan. Banyak terjadi pelecehan yang tidak kita sadari sangat mengurangi taksu pura tersebut.

Pura Ulun Danu, Begudul yang penuh dengan lumpur sisa banjir

Jika sudah begini, siapa yang akan disalahkan? Apakah semata-mata menyalahkan alam yang terlalu lama menjatuhkan hujan, terlalu lama meniup angin?

Pura-pura diatas adalah contoh kecil dari pura yang pengurusnya memperbolehkan wisatawan masuk ke areal pura, hanya baru pura-pura itulah yang kena peringatan alam seperti ini. Lalu bagaimana dengan pura-pura lain?

Banyak pura-pura besar yang setahu saya wisatawan boleh masuk, meskipun memakai kamen dan selendang, contohnya saja Tanah Lot, Besakih, dll nya.

Tidakkah kita sebagai generasi penerus leluhur untuk menjaga Bali dan kesuciannya sadar? Sadar dan berfikir sejenak apakah yang kita lakukan ini sudah benar atau tidak? Apakah kita menggadaikan sesucian dan taksu pura hanya demi popularitas dan materi?

Jangan sampai kita semua menyesal dikemudian hari, karena tidak eling dengan hal-hal seperti ini. Semoga kedepannya para sulinggih, pemerintah dan masyakarat sekitar berjibaku menjaga kesucian taksu pura.

Semoga Bali selalu Santih dan Bertaksu. Mohon maaf jika ada uraian saya yang keliru dan mohon dikoreksi. Ini hanya pendapat pribadi saja. Suksma

Om Santih, Santih, Santih Om

*************************
Beberapa pendapat yang INFORMATIF telah masuk terkait kejadin ini  (Saya ambil beberapa komentar FB). Sedangkan sisanya ada di kolom komentar artikel ini :

Pendapat I Wayan Warmada :

kalau dari sisi ilmu alam, posisi pura kadang tepat di muara lembah, sperti Pura Teratai Bang. Pura ini berada di lereng tenggara G. Tapak yg cukup terjal. Banjir bandang pasti terjadi kalau ada penebangan pohon di hulunya.
Saya kurang tahu apa yg terjadi di hulunya. Yg jelas tanah di sebagian besar Bali yg asalnya dari batuan vulkanik sangat mudah lapuk dan membentuk mineral lempung yg sangat peka dengan air khususnya air hujan (di bahasa ilmiahnya lempung yg mudah mengembang. Jadi alam merespon apa yg manusia lakukan).

Saran dari beliau adalah sebagai berikut :

  • Harus dipastikan di hulu sungai itu, tidak ada penebangan liar. Gelondongan kayu keluyuran pasti ditebang, kalau roboh saja masih akan ditahan oleh akarnya. 
  • Harus dipikirkan bagaimana membuatkan limpasan air jika hujan cukup deras tentu akan mengalir ke lembah. Mungkin bisa sengked sedikit dibagian kiri dan kanan pura untuk aliran air supaya tidak menerjang pura. Lokasi Pura Teratai Bang sangat unik, dan satu-satunya di Bali yg bawahnya ada gas CO2 dan SO3 cukup tinggi. Jadi semen biasa akan dihancurkan oleh gas ini. Kasusnya hampir sama dengan bangunan-bangunan di Bukit Kasih, Sulawesi Utara (ada pura-nya juga).

Pendapat dari Made Damayana sebagai berikut :

Alam tidak pernah membawa bencana, hanya alam mencari keseimbangan. Ketika manusia mulai pongah dengan label mahluk yang sempurna dan dengan seenaknya membabat hutan. Ketika alam mencari keseimbangan ekosistem nya, terlihat manusia ternyata mahluk yang paling lemah.

Pendapat dari Sugianta Nirawana sebagai berikut :

Hal-hal kecil seperti sembarangan masuk ke pura memang perlu di perhatikan karena aturannya memang ada seperti cuntaka. Jika yg cuntaka masuk, maka areal di dalam pura akan leteh.
Dengan kejadian bencana seperti ini manusia akan membersihkannya , pura juga otomatis akan bersih kembali.
Dari niskala, alam membersihkan sedangkan dari sekala, manusia yang membersihkan.


Terimaksih atas pendapatnya, semoga ini bisa menjadi aspirasi bagi siapa saya yang membacanya kelak.