Nabi Disetiap Agama, Bagaimana Dengan Nabi Di Hindu?

Om Swastiastu,

Suatu agama yang berada di Indonesia akan diakui keberadaanya oleh Negara apabila sudah mencakup beberapa hal, diantaranya :
  • Memiliki Kitab suci sebagai panutan Umatnya
  • Memiliki Konsep Tuhan Satu. Artinya Tuhannya hanya satu tidak ada duanya
  • Memiliki umat yang banyak
  • dll (silakan browsing sendiri)
Nah kali ini saya akan membahas konsep nabi di Agama Hindu. Ketika saya kuliah diluar Bali banyak dari kalangan Non Hindu yang sering bertanya kepada saya, siapa sih Nabi Hindu, apakah Hindu memiliki Nabi? Jika ibarat makanan saya sudah kenyang dengan pertanyaan - pertanyaan seperti itu

Pada dasarnya pengertian secara singkat Nabi itu adalah Utusan Tuhan, yang menerima wahyu Tuhan. benar tidak?

Sebenarnya di Hindu kita tidak mengenal kata Nabi. Kalau yang saya tau Nabi itu adalah panutan umatnya dari jaman ke jaman, sedangkan di Hindu tidak.

Jika Hindu memakai konsep Nabi maka ajaran Hindu akan berhenti berputar, karere itulah di Hindu tidak memakai Konsep Nabi kenapa? karena ajaran Hindu (WEDA) adalah tidak berawal dan tidak berakhir (Anadi-Ananta)

Hindu memang tidak memiliki tokoh sentral seperti Nabi dan itulah yang membedakan dengan keyakinan lainnya. Kenapa demikian? begini :

Kebijakan alam semesta tidak akan dapat terserap hanya oleh satu orang dalam kurun waktu yang terbatas (dalam batas umur manusia), karena selalu akan ada hal yang baru muncul karena belum di ungkapkan. Itu sebenarnya sudah immanen dalam semesta, baru akan muncul pada periode berikutnya.

Maha Resi (Maha, Besar, Agung, Resi, Bijaksana) akan muncul pada berbagai periode. Dengan kebijaksanaan yang agung itulah mereka (The Great Sage) menemukan esensi kebijaksanaan semesta deep-contemplation, anubhawa, sehingga kitab-kitab suci sanathana dharma BEBAS dari kalimat - kalimat KEKERASAN

Sifat lain dari the great sage yaitu tidak mau di kultuskan karena kultus adalah pemeliharaan terhadap ego yang sudah tidak ada pada mereka. Kultus melahirkan fanatisme sempit

Artinya, Hindu mengenal banyak Maha Resi yang menerima kebijakan Weda dalam banyak periode sebagai akibat anubhawa dimana egonya sudah terkikis.

MARI KITA TELAAH LEBIH DALAM LAGI

Pada Hindu, kemunculan dari teks-teks suci yang ada dalam Catur Weda sangat berbeda caranya dengan yang ada di dalam Al Qur'an. Pada satu sisi, Rsi dan Nabi adalah orang yang sama-sama spesial dalam masing-masing agama, hanya ada satu yang membedakan bahwa Rsi adalah seorang spiritualis yang hidupnya sudah terlepas secara total dari masalah-masalah duniawi, dari masalah-masalah agama dan sebagainya.

Nabi pada kondisi atau waktu yang sama juga adalah seorang pemimpin agama, tapi Rsi bukanlah pemimpin agama. Rsi hanya pemimpin bagi dirinya sendiri. Rsi sudah tidak peduli, apakah tesk-tesk suci itu diterima atau tidak oleh komunitas masyarakat, karena wilayah Rsi hanya menyampaikan apa yang patut disampaikan (tidak ada Dogma)

Munculnya tesk suci pada Weda, melalui cara :

  • Pada suatu keadaan dimana jiwa Rsi bersatu dengan Paramatma, apa yang sering disebut anubhawa (Anu : keadaan yang tidak bisa didefinisikan, Bhawa : sifat-sifat seseorang pada saat keadaan tersebut). Dengan demikian Anubhawa adalah Ketika seorang Rsi dalam keadaan meditasi dalam dan pada saat itu pulalah dia menerima pesan dari Brahman (Tuhan Yang Maha Esa)

Maka bedanya adalah teks suci Agama Hindu di terima melalui penyatuan (unity) atman-paratman, sedangkan teks suci pada keyakinan lain, melalui perantara malaikat.

Bisa jadi, pada saat bersamaan banyak Rsi mengalami keadaan Anubhawa, sehingga secara bersamaan mereka menerima wahya yang berbeda-beda.

ini akan membawa konsekuensi :
  • Tidak akan pernah diketemukan, siapa Nabi dalam Umat Hindu, sebagaimana pengertian Nabi secara klasik yang dikenal dalam Agama Islam, apalagi kata "Nabi Terakhir" karena pada saat yang bersamaan, banyak para orang suci yang mampu melaksanakan deep-contemplation, Anubhawa dan memiliki atau menerima direct-message dari Brahman. Dengan alasan ini, maka tidak ada Rsi yang dikultuskan.
  • Tidak akan pernah diketemuka, ayat atau teks mana yang akan menjadi ayat pertama, karena dalam waktu yang bersamaan banyak Maha Rsi yang menerima wahyu yang berbeda dari Brahman.
  • Sebagai akibat dari Maha Rsi itu memproleh teks-teks suci itu melalui deep contemplation maka tidak diketemukan kalimat-kalimat yang mengandung unser KEKERASAN, seperti Siksa Neraka, Api Neraka yang merupakan bukan kalimat standard yang pas keluar dari kebijakan Tuhan.
  • Berakibat juga, teks-teks suci dalam Hindu (Weda) demikian sangat rahasia sifatnya, sehingga sulit dimengerti oleh orang awam. Dengan demikian mungkin kemudian para Maha Rsi masih memandang perlu untuk menjelaskan lebih sederhana teks-teks suci itu melalui Upanisad.
  • Dengan alasan ini pula maka Weda bukanlah satu pake buku dengan judul WEDA, tapi dikondifikasi menjadi empat kondifikasi oleh Bhagawan Abhyasa, Bhagawan KrishnaDwipayana
Kesimpulannya begini :
  • Hindu tidak mengenal kata Nabi, apalagi Nabi Terakhir, Tidak!
  • Rsi adalah seorang spiritualis, yang berbeda jauh dengan Nabi
  • Penyampaian teks-teks suci ini melalui perampara
Salam Rahayu, Om Santih, Santih, Santih, Om


Referensi :

  • Buku hindu menjawab halaman 52 (Ngakan Made Madrasuta)
  • Dharma wacana di pura-pura sewaktu saya kuliah di jawa.


Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Japa Mantra Om Namah Siwaya (Siwa) dan Urutan Pengucapannya

Mitos dan Asal Usul Ulat Lulut